Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatulloh aktor kawakan Shopan Sophian dalam sebuah iring-iringan motor di jalan yang rusak di betulan Sragen – Ngawi (Jatim), Sabtu(17/5) sekitar pukul 09.00.

Dikabarkan,suami aktris Widyawati ini meninggal setelah motornya terperosok di jalanang rusak. Ia bersama rombongan Tim Merah Putih tengah menuju perjalanan ke Jakarta. Kegiatan ini dalam rangka memepringati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Tentu saja kita sangat kehilangan aktor dan mantan poltikus yang saat ini menjadi panutan bagi sejmlah aktor maupun aktris. Wajar, karena selama usia perkawinannya dengan Widyawati, tak pernah terdengar cekcok atau isu lainnya yang menerpa pasangan ini.

SELAMAT JALAN BUNG SOPHAN SEMOGA ARWAHMU DITERIMA DI SISI ALLOH SWT

Berikut sekilas tentang sosok Sophan Sophian yang say kutip dari TokohIndonesia DotCom (Ensikopedi Tokoh Indonesia)

Nama; Sophan Sophian
Lahir: Makassar 26 April 1944
Agama: Islam
Isteri: Widyawati
Ayah: Manai Sophiaan
Ibu: Munasiah Paiso
Profesi: Bintang Film dan Politikus
Jabatan: Mantan Ketua Fraksi PDIP MPR
Film: Pengantin Remaja
Alamat: Jalan Taman Wijaya Kusuma IV No. 34 A Cilandak Barat, Jakarta Selatan
Sophan Sophian
Kiprah Politik Sang Aktor Film

Dia seorang aktor film yang piawai bermain kepura-puraan atau bersandiwara. Ia menghayati kepura-puraan sebagai seni. Kemudian ia terjun dalam dunia politik praktis, menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR, lalu mengundurkan diri.  Kemudian ia pun meloncat memainkan adegan (peran) baru masuk tim sukses dan bintang iklan Capres- Cawapres PAN.

Namun, menjelang Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ke-2 di Bali, Maret 2005, dengan amat percaya diri sebagai loyalis, pejuang dan pembaharu partai (PDIP), ada pula yang masih menjagokannya sebagai salah satu calon Ketua Umum PDIP menggantikan Megawati Soekarnoputri.

Ketika berperan sebagai bintang film, dia melihat kepura-puraan sebagai seni dan dia sangat menghayatinya. Sehingga ia sukses sebagai bintang film. Kemudian ia terjun dalam dunia politik praktis, sampai sempat diberi kesempatan (dipercayakan) menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR-RI. Dalam peran yang dipercayakan kepadanya di PDIP itu, namanya makin melambung dan sempat mewarnai kancah politik nasional.

Namun di dunia politik (parlemen) itu, tampaknya ia menghadapi kepura-puraan (sandiwara) yang terjadi dalam kenyataan, hal yang sebenarnya sangat dihayatinya dalam film. Ia pun hidup dalam dua dunia, yakni kenyataan kepura-puraan dan seni peran kepura-puraan yang dihayatinya. Lalu dalam kenyataan itu, ia pun mundur dari lembaga legislatif.

Sampai di situ, banyak orang masih terkesima seperti merasakan adanya sinyal nurani kejujuran.
Belakangan, ia meloncat melakoni adegan (peran) baru masuk tim sukses Amien-Siswono, Capres-Cawapres PAN (Partai Amanat Nasional) untuk bersaing dengan Capres-Cawapres lainnya, di antaranya Capres-Cawapres PDIP. Kali ini, juga dalam suatu kenyataan, sekaligus dalam suatu seni peran sebagai bintang iklan mendukung Amien-Siswono.

Memang, meminjam lirik lagu Achmad Albar, dunia ini adalah panggung sandiwara. Walaupun lirik lagu itu tidak selalu benar. Sebab panggung sandiwara tidak selalu sebagai suatu kenyataan dan kenyataan tidak selalu menjadi panggung sandiwara. Terkadang ketulusan nurani tanpa pamrih masih menampakkan sosok sebagai kenyataan.

Ah… ketulusan nurani yang antara ada dan tiada! Entahlah itu yang disebut sebagai seni peran (aktor) dan politik (politikus) yang harus mampu berkompromi. Bak kata para filsuf, suatu misteri kehidupan manusia yang paradoksal. Berbeda, bahkan bertentangan, tetapi berjalan secara bersamaan.

Begitulah kiranya, kiprah dan potret seorang aktor film (pemain sandiwara) kenamaan, dalam dunia politik. “Boleh jadi dia tidak cocok menjadi seorang politisi,” kata Jimly Ashidiqie, sebagaimana dikutip Suara Pembaruan,  ketika Sophan mengundurkan diri dari parlemen.

Sophan sendiri mengatakan pengunduran dirinya karena menilai parlemen sebagai lembaga politik tidak sejalan dengan nuraninya. Namun, ketika itu, pria kelahiran Makassar 26 April 1944, ini menyatakan hanya mengundurkan diri dari parlemen tapi tidak mundur dari keanggotaan PDI-P.

”Saya hanya mundur dari MPR/DPR, saya tidak mundur dari partai, saya tetap orang PDI-P,” ujarnya. Ia menegaskan: “Saya tidak pernah memiliki pretensi apapun terhadap pengunduran diri saya. Saya mengundurkan diri karena saya sudah merasa tidak mampu lagi beradaptasi dengan konstalasi sosial, ekonomi dan politik yang sedang berlangsung saat ini.”

Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan itu karena kekecewaan yang terakumulasi. Antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat ulah orang-orang ”indekos” di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan Urusan Logistik (Bulog) di DPR.

Mundurnya Sophan, kata para pengamat (namanya pengamat bisa salah atau benar), tidak hanya merupakan kerugian bagi DPR dan MPR, tetapi juga merupakan kerugian bagi Megawati Soekarnoputri dan PDI-P. Sebab meskipun ia seorang seniman, tetapi termasuk bisa menjadi kaliber politik karena kemungkinan mewarisi watak politik dari Manai Sophiaan ayahandanya.

Maka tak heran, bila pengunduran dirinya dari parlemen (Fraksi PDIP) membuat politisi dari partai lain meliriknya dengan cerdik (cerdas dan berani serta taktis) sebagai bagian dari permainan dan kepentingan politik. Dan, ia pun secara sadar meloncat mendukung dan menjadi bintang iklan C

artikel ini diambil dari sini