Stok Menipis, Kenaikan Harga Tak Bisa Dihindari
NEW DELHI – Protes atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tidak hanya terjadi di Indonesia. Di India, Prancis, dan Bulgaria, terjadi aksi serupa. Bentuk aksi penolakan itu bisa bermacam-macam. Namun, tujuannya sama. Yakni, menolak kebijakan pemerintah negeri masing-masing menaikkan harga BBM.

Di Bulgaria, aksi tersebut sudah berlangsung sejak Senin 19 Mei lalu. Ratusan pengemudi truk melancarkan aksi mogok yang berimbas pada terganggunya transportasi di negeri itu.

Seperti juga pemerintah Indonesia, pemerintah Bulgaria mengaku tidak berdaya menghindari kenaikan harga BBM. Hal serupa dialami pemerintah India.

Menteri Perminyakan India M.S. Srinivasan mengatakan bahwa menaikkan harga BBM sudah tidak bisa ditunda lagi. Meskipun memberatkan rakyat, keputusan tersebut tidak bisa dihindari.

Pemerintah India merencanakan kenaikan harga BBM sekitar 22 persen untuk premium dan 16 persen untuk solar. “Situasinya semakin mengkhawatirkan. Seharusnya kita sudah melakukan langkah antisipasi sejak awal,” ujar Srinivasan kepada wartawan.

Sementara itu, Malaysia menerapkan kebijakan sedikit berbeda. Negeri jiran tersebut mengharuskan penduduk kaya membayar lebih banyak atas barang-barang yang disubsidi, termasuk di dalamnya adalah BBM.

Kebijakan itu diambil supaya bisa mengurangi pengeluaran pemerintah. “Kami perlu punya sistem yang bagus agar subsidi tepat sasaran, yakni bagi mereka yang pendapatannya rendah dan menengah,” ujar Menteri Keuangan Nor Mohamad Yakcop.

“Bila kami tidak berbuat sesuatu, kami harus mengeluarkan lebih banyak lagi untuk subsidi. Tapi, tentu kami harus berbuat sesuatu,” tambahnya.

Di Prancis, kenaikan harga BBM langsung memicu kemarahan para nelayan. Hal serupa terjadi di Belgia. Ratusan nelayan negeri itu melakukan long march di pelabuhan utama Zeebrugge. Sedangkan nelayan Portugal menyerukan aksi mogok secara nasional. Mereka memblokade beberapa pelabuhan.

Nepal bahkan lebih memprihatinkan. Pemerintah negeri di lereng pegunungan Himalaya tersebut menyatakan bahwa persediaan BBM mereka menipis. “Persediaan yang kami miliki hanya sampai enam hari. Pemerintah harus bertindak secepatnya sebelum keadaan semakin memburuk,” kata Mukunda Prasad Dhungel, deputi general manager Nepal Oil Corporation (NOC), kepada AFP.

Saat ini, kala harga minyak dunia di atas USD 130 (sekitar Rp 1,2 juta) per barel, pemerintah Nepal masih mempertahankan harga jual lama kepada rakyatnya. Yakni, sama seperti saat harga minyak dunia masih USD 83 (sekitar Rp 778 ribu) per barel. Itu mengakibatkan kerugian bagi NOC. Per bulan, NOC rugi sekitar USD 17,5 juta (sekitar Rp 162,8 miliar) per bulan.(AFP/AP/Rtr/dia)

artikel ini diambil dari Jawapos.com