Yogyakarta-Ekonom yang juga mantan Kepala Bappenas, Kwik Kian Gie menyatakan ketidaksetujuannya jika harga BBM dinaikkan. “Solusinya, harga BBM itu, ya tidak dinaikkan,” tegasnya saat menjawab pertanyaan peserta Sarasehan Kebangkitan Nasional di Tamansiswa Yogyakarta, Kamis (15/5).
Menurut Kwik, alasan pemerintah menaikkan harga BBM itu, harga minyak di dunia internasional telah mencapai US$ 120-130 per barelnya, sementara harga di tingkat nasional per liternya hanya Rp 4.500. Dengan begitu pemerintah harus memberikan subsidi. Namun uangnya di APBN tidak ada, maka harganya harus dinaikkan. “Alasan itu tidak betul,” kata Kwik.
Minyak mentah yang berada di perut bumi Indonesia adalah milik rakyat Indonesia. Dengan demikian, minyak mentah untuk rakyatnya itu tak ada harganya. Dia lebih lanjut mengatakan minyak mentah yang dijadikan premium dan didistribusikan ke SPBU-SPBU tersebut hanya memerlukan biaya US$ 10 per barelnya. Satu barel sama dengan 159 liter. Jika US$ 1 itu sama dengan Rp 10.000, untuk mengadakan sampai ke SPBU hanya Rp 630. Setiap satu liter Premium yang dijual, pemerintah untung Rp 3.870.
“Apa yang dikhawatirkan pemerintah? Saya punya bukti ada kelebihan uang,”tutur Kwik. Dia mengakui dengan harga US$ 120 per barelnya, sementara konsumsi BBM melebihi produksi, jumlah subsidi yang dikeluarkan banyak. Dia mengatakan produksi 40.624.500.000 liter/tahun, sedangkan konsumsi 60.000.000.000 liter/tahun.
Jadi kekurangan yang harus diimpor 19.375.500.000 liter/tahun sehingga rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini Rp 121,9 triliun. “Tapi kelebihan uangnya juga banyak (dari penjualan-red). Dan kalau itu digabung jadi satu, masih plus Rp 35 triliun,” ungkap Kwik.
Dan, menurut Kwik, ketika hal ini ditanyakan pada Jusuf Kalla dalam “Todays Dialogue”, juga diakui, dan uang kelebihan tersebut untuk membangun infrastruktur. “Saya katakan, lupakanlah infrastruktur, perut yang lapar inilah yang lebih didahulukan,” tutur Kwik. (yuyuk sugarman)

diambil dari Sinar Harapan