Penemu BBM murah berbasis air, Djoko Suprapto (4 8) mendadak jatuh pingsan di rumahnya, Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Sabtu (24/5) siang. Penemu blue energy itu pingsan saat hendak menjelaskan penemuannya kepada wartawan.
Saat duduk di sofa didampingi istrinya, Winda Mira, Djoko berusaha menjelaskan proses penemuan mutakhirnya. Belum tuntas penjelasannya, tiba-tiba tangan Djoko gemetar. Kepalanya merunduk pelan kemudian lemas hingga menyentuh lengan kiri.

Wajahnya pucat. Dalam hitungan detik, kepala Djoko jatuh menimpa tangan kirinya yang disandarkan di pinggir sofa. Tidak hanya Winda Mira, lima orang dekat Djoko yang ada di ruang tamu utama itu kaget. Beberapa saat kemudian Djoko siuman. Winda Mira langsung membukakan segelas air mineral dan diminumkan ke suaminya.

“Maaf ya, bapak kondisinya sedang tidak fit. Tolong beri kesempatan suami saya istriahat dulu. Lain kali diwawancarai lagi,” pinta Winda kepada wartawan. Kemudian, orang-orang kepercayaan Djoko meraih kedua tangannya untuk dipapah masuk ke ruang dalam.

Apakah Djoko dipenuhi beban luar biasa, terutama setelah dua minggu menghilang? Baik Winda maupun orang-orang terdekat Djoko tak ada yang bisa menjelaskan. Istri yang sudah dikaruniai dua anak dari pernikahannya dengan Djoko ini hanya mengatakan sejak pulang Jumat (23/5) dini hari lalu, kondisi suaminya sering drop.

Djoko pingsan setelah 15 menit diwawancarai wartawan. Sebagaimana janji Djoko, Sabtu siang kemarin, pria asal Gemolong, Sragen, Jateng, ini menyatakan bersedia menerima wartawan. Pukul 10.15 WIB Djoko duduk didampingi istrinya menerima wartawan.
Pingsannya Djoko bermula ketika Surya mencoba mengorek tentang penemuannya. Saat diminta menjelaskan hingga unsur hydrogen bisa diubah menjadi BBM, tiba-tiba dari mulut Djoko tidak lagi terdengar suara hingga ambruk.

Dalam wawancara awal, Djoko menjawab pertanyaan dengan lancar. Dia menjelaskan, air yang memiliki unsur hydrogen memiliki kandungan salah satu unsur bahan bakar. Ia cukup menambah rantai-rantai carbon. Selanjutnya prosesnya akan ditambah katalisator hingga menghasilkan minyak fosil.

Terbelit Dana

Meski secara teknis belum banyak yang bisa diketahui dari penemuannya, namun penjelasan di ruang utama Padepokan Jodhipati itu sudah bisa membuka misteri hilangnya Djoko selama dua minggu.

“Terus terang, selama dua minggu itu saya tidak bisa dihubungi. Itu bagian dari strategi untuk fokus menyelesaikan proyek kami. Selama itu pula, saya menggalang dana untuk mempercepat selesainya proyek agar bisa segera dimanfaatkan masyarakat,” kata Djoko.

Bahkan, pria yang hobi nanggap wayang ini mengaku tak menghadiri undangan Presiden SBY pada acara Malam Kebangkitan di Senayan. “Undangan itu dalam rangka janji saya dan kerjasama juga dengan Bapak Presiden agar proyek kami segera terealisasi. Tapi kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan, ” tandas sarjana teknik lulusan perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta ini.

Selama `menghilang` itu, Djoko mengaku harus bolak-balik ke tempat produksi dan laboratorium penelitian. Namun saat ditanya di mana tempat-tempat tersebut, Djoko hanya menjawab tidak jauh, tidak sampai di luar Pulau Jawa.

Pemilik Radio Jodhipati FM ini menambahkan, sudah dua tahun dirinya mengembangkan BBM berbasis hydrogen. Sejauh ini kapasitas produksinya sudah mencapai 10 liter per detik. “Namun, jenis BBM-nya saat ini masih berupa bahan menuju solar atau agak tepanya masih minyak tanah,” terang Djoko.

Untuk produski 10 liter per detik itu, Djoko masih akan mengeksploitasi air tanah. Tapi untuk pengembangan lebih besar, konsentrasi akan dialihkan ke laut. Djoko bertekad menggarap sepanjang pantai. Info yang berkembang, selain saat ini memiliki pabrik di Cikeas, Djoko mulai menggarap di kawasan pantai Parangtritis Jogjakarta. “Doakan semua segera tuntas dan bisa dirasakan semua masyarakat,” harap Djoko.

sumber kompas.com