JAKARTA – Warga AS tidak perlu lagi waswas berkunjung ke Indonesia. Mulai Jumat (23/5) lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (Deplu AS) mencabut larangan perjalanan (travel warning) ke Indonesia yang diberlakukan sejak November 2000 atau delapan tahun lalu. Namun, pencabutan travel warning itu diikuti tip untuk mewaspadai jambret dan copet di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Cameron R. Hume mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah melihat kondisi keamanan di Indonesia yang sudah kondusif, sehingga travel warning tidak diperlukan lagi. “Amerika Serikat telah mencabut larangan tersebut karena perbaikan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap situasi keamanan saat ini,” ujarnya di Jakarta kemarin (25/5). Berakhirnya travel warning itu mulai efektif 23 Mei 2008.

Larangan perjalanan ke Indonesia diberlakukan Deplu A S sejak November 2000. Artinya, hampir delapan tahun warga AS disarankan tidak berkunjung atau berlibur ke Indonesia. Keluarnya travel warning itu menyusul beberapa kali aksi terorisme seperti peledakan di Jakarta dan Bali.

Hume yang menjadi Dubes AS di Indonesia menggantikan Lynn Pascoe itu, menjelaskan, Indonesia tidak pernah mengalami serangan teroris dalam skala besar sejak Oktober 2005. “Pemerintah Indonesia juga telah membongkar, menangkap, dan mengadili berbagai elemen terorisme,” lanjutnya.

Dengan berakhirnya travel warning, Hume menyatakan itu keputusan signifikan dan berharap hal tersebut mengarah kepada hubungan lebih erat antara masyarakat kedua negara. Dia berharap semakin banyak pengusaha, wisatawan, dan akademisi Amerika berkunjung ke Indonesia untuk mengembangkan perdagangan, pariwisata, dan pertukaran pendidikan kedua negara. “Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk melindungi warga negara Amerika di Indonesia dengan meningkatkan kerja sama keamanan dengan aparat di Indonesia,” paparnya.

Lebih lanjut, Hume mendesak aparat keamanan Indonesia untuk tetap menjaga fasilitas publik pada tingkat yang maksimal, mengingat ancaman keamanan tetap ada.

Meski mencabut larangan perjalanan, Deplu AS tetap memberikan catatan-catatan dan tip perjalanan bagi warganya yang ingin pergi ke Indonesia. Melalui situs resminya, Deplu AS menyebutkan Indonesia termasuk negara yang menjadi incaran bagi teroris. Karena itu, warga AS yang ingin melakukan perjalanan ke Indonesia disarankan tetap waspada. Beberapa daerah yang rawan konflik juga disebutkan agar menjadi perhatian khusus.

Untuk masuk wilayah Provinsi Papua, misalnya, warga AS harus mendapatkan izin dari aparat keamanan Indonesia dan perwakilan pemerintah AS di Indonesia. Beberapa daerah lain juga mendapatkan perhatian khusus, di antaranya Banda Aceh, Sulawesi Tengah, dan Maluku.

Selain itu, beberapa tip khusus ditambahkan. Di antaranya menyangkut perlunya mewaspadai jambret dan copet di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan, untuk keperluan transportasi lokal seperti taksi, pemerintah AS menyarankan menggunakan merek taksi tertentu ketimbang mencegat taksi liar di jalanan. (iw/kim)

diambil dari jawapos