Selasa, 23 Mei 2006
Berdasarkan studi yang dilakukan Mahasiswa S3 program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, FakultasEkologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Herien Puspitawati, rasa ingin mendapatkan pengakuan sosial (social recognition) dan perhatian orangtua ternyata merupakan salah satu faktor pemicu kenakalan remaja. ”Mereka melakukan kenakalan karena tidak mendapatkan perhatian di rumah, sebagai gantinya mereka mendapatkan pengakuan di luar rumah dengan cara melakukan tindakan tersebut,” kata Herien usai sidang terbukanya Rabu, di Rektorat IPB.

Hasil studi Herein selama 3 tahun sejak Juni 2001 hingga Desember 2004 menunjukkan tekanan ekonomi keluarga berpengaruh secara tidak langsung pada kenakalan pelajar melalui gaya pengasuhan orangtua. ”Gaya pengasuhan orangtua terhadap remaja yang cenderung diwarnai dengan tindakan kekerasan dan kekasaran seperti marah, memaki, berteriak/membentak, bertengkar dan memukul, berdampak pada meningkatnya perilaku kenakalan pada remaja, baik kenakalan yang bersifat umum maupun kriminal,” tutur Herein.

Sadar atau tidak, pengasuhan yang dilandasi kekasaran dan kekerasan ini mengakibatkan jiwa dan psikologi remaja menjadi tertekan, selalu sedih, tidak percaya diri, tidak berguna, tidak mampu mengendalikan diri, mendendam, dan memberontak. ”Remaja seperti ini tidak akan mampu menghargai diri sendiri dan tidak mampu mengelola serta mengontrol emosinya. Remaja ini melampiaskan emosinya di luar rumah dalam bentuk perilaku nakal seperti memalak, mencuri, narkoba, free sex, berkelahi/tawuran dan menyakiti fisik orang lain,” jelas Staf Pengajar Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB ini.

Hubungan pertemanan juga mempengaruhi tingkat kenakalan remaja. Remaja yang memiliki teman yang bermasalah cenderung berperilaku agresif, nakal dan berprestasi rendah. Kenakalan ini bisa dikurangi dengan komunikasi terbuka dan baik antar anggota keluarga serta pengiatan pengasuhan ibu. ”Komunikasi yang baik dan terbuka dalam keluarga berpengaruh terhadap menurunnya perilaku agesif, kenakalan dan meningkatkan nilai pelajaran,” tutur Ibu dari dua anak ini.

Peran pengasuhan ibu lebih dahsyat khasiatnya untuk mencegah remaja dari perbuatan kenakalan umum ataupun kenakalan kriminal dibanding peran pengasuhan ayah. Bentuk komunikasi terbuka dan hubungan diadik antara remaja dan orangtuanya dapat menjadi ’buffer’atau penyaring serta pelindung anak dari lingkungan luar negatif.

Jumlah responden studi yang berlokasi di empat Sekolah Menengah Kejuruan-Teknik Industri (SMK-TI) dan satu sekolah umum swasta di Kota Bogor ini sebanyak 667 pelajar ( 540 putra dan 127 putri). Pengambilan sampel menggunakan metode acak sederhana pada kelas dua. ”Sebanyak 67 persen contoh pelajar laki-laki dan perempuan SMK-TI dan 50 persen contoh SMU pelajar perempuan melakukan jenis kenakalan umum seperti bolos, minggat, merokok, pesta sampai malam, dan menggoda cewek/cowok,” kata Herien.

Untuk kenakalan kriminal, sebanyak 12, 25 persen contoh SMK-TI dan 11 persen contoh SMU mengkonsumsi narkoba, morphin, aibon. Sebelas persen contoh SMK-TI dan 5 persen contoh SMU minum-minuman keras dan membawa senjata tajam ke sekolah. Pelajar kedua sekolah juga pernah melakukan seks bebas yakni 10 persen contoh SMK-TI dan 5 persen contoh SMU.

Ujian terbuka yang bertajuk ’Pengaruh Faktor keluarga, Lingkungan Teman dan Sekolah terhadap Kenakalan Pelajar di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Kota Bogor’ dibawah komisi pembimbing yang terdiri dari Prof.Dr Ir Ujang Sumarwan, Dr Ir ratna Megawangi, Prof Dr Pang S Asngari, dan pembimbing luar komisi Prof Dr Meutya Hatta (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) dan Dr Ace Suryadi (Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah).

Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutya Hatta mengutarakan kekhawatirannya terhadap kenakalan remaja yang sekarang marak terjadi pada pelajar sekolah menengah. Dari survey tersebut, pelajar sekolah kejuruan berpotensi lebih tinggi melakukan kriminal dibanding sekolah menengah umum. ” Kita tak selayaknya melakukan diskriminasi terhadap pelajar STM dan SMU. Rasa diskriminasi menimbulkan stress dan depresi yang berujung pada agresivitas serta tawuran antar pelajar,” tegas Muetya. Dia mencontohkan tindak diskriminasi sopir angkot. Para sopir tersebut enggan menghentikan kendaraannya bila calon penumpang berasal dari pelajar sekolah kejuruan. Menurut Muetya pemerintah telah merencakan kebijakan holistik dalam mencegah kenakalan pelajar, namun peraturan tersebut tak berfungsi efektif tanpa peran semua pihak.

Salah satu penguji, Ratna Megawangi menambahkan terdapat benang merah kenakalan remaja pada sekolah umum dan kejuruan yakni adanya rasa ketidak percayaan diri atau penghargaan diri rendah. ” Anak-anak tersebut adalah produk dari sistem sekolah yang terlalu mengedepankan aspek kognitif. Ketika sekolah anak dipenuhi beban pelajaran, masalah sekolah seperti minimnya sarana prasarana dan guru-guru yang kurang bersahabat. Mereka kemudian stress dan depresi,” ujar Staf Pengajar Departemen Gizi Masyarakat IPB ini. Istri dari Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informatika ini mengusulkan perubahan sistem pendidikan yang bisa membentukan karakter (character building) anak, sehingga ilmu tak sekedar hapalan tapi juga praktek. ”Tugas kita bersama untuk membuat sistem pendidikan terobosan agar suasana sekolah menyenangkan, menantang dan bisa menjadi bekal pembangunan masa depan bangsa kita,” ujar Ratna. (ris)